Jangan Takut Menjadi Parasut

Ketika kita mendengar kata parasut, hal apa yang pertama kali terlintas di pikiran kita? Apakah ketakutan akan jatuh dari ketinggian? Atau justru keindahan yang bisa kita lihat dari ketinggian itu? Menjadi 'parasut' mungkin menakutkan bagi beberapa orang, atau justru menyenangkan bagi yang lainnya. 

Ternyata, menjadi parasut tidak sesederhana itu. Membayangkan diriku dibawa naik ke langit biru, dan harus bersiap untuk dihempaskan kembali ke dasar. Aku tak tahu apa yang menungguku di bawah sana, bagaimana kalau aku jatuh ke dasar jurang yang sangat dalam? Bagaimana kalau aku mendarat di tumpukan tanaman kaktus? Atau justru, aku akan tenggelam dalam samudera yang sangat luas? Aku buta, tak tahu apa yang akan menyambutku di tempatku mendarat.

Entahlah, pada akhirnya aku tak menyesal pernah menjadi 'parasut'. Awalnya memang mengerikan, dihantui oleh pikiran yang terus berbisik bahwa jatuh dari ketinggian itu menyakitkan. "Buat apa aku naik tinggi kalau hanya untuk dijatuhkan?" logika membuatku terdesak, namun hati kecilku terus membela. Ketika berada di ketinggian, tubuhku memang sedikit menegang. Namun pemandangan yang luar biasa indah membantuku untuk mengendurkan otot-otot dalam tubuhku. Perasaan nyaman di atas langit ini mulai menyelimutiku, merasuki pikiranku sedikit demi sedikit. Aku merasakan kebebasan, terbuai oleh keindahan langit biru dan awan putih yang bertebaran di sekitarku. Hembusan angin membuatku terhanyut dan lupa bahwa semua ini hanya sementara.

Aku heran, hantu itu benci sekali padaku! Ketika aku sudah terlalu nyaman untuk turun dari ketinggian, ia mengembalikan ingatanku atas daratan. Aku tak ingin jatuh! Aku masih ingin terhanyut dalam hembusan angin ini! Aku masih ingin menggenggam awan, menari bersama burung-burung cantik yang terbang bebas di langit. Aku belum siap untuk jatuh dan meninggalkan semua keindahan ini. Aku belum siap, dan takkan pernah siap.

Namun sekuat apapun ragaku melawan, aku tak bisa melawan gravitasi. Aku tak bisa membuat diriku tetap terbang dan bertahan di ketinggian. Pada akhirnya, aku harus menyerah kepada takdir. Aku harus merelakan diriku jatuh dan kembali ke daratan. Rasa takut itu masih ada, namun berbeda. Aku takut kehilangan sesuatu yang bahkan bukan milikku. Namun apa daya, aku percaya bahwa Sang Pencipta telah melukiskan sesuatu yang lebih indah di kanvas Nya yang lain. 

Rasa takut itu berangsur-angsur menipis, sampai akhirnya menghilang tanpa jejak. Ketakutanku sirna setelah aku menjejakkan kakiku di atas permadani hijau yang menyambutku dengan lembut. Aku memang masih menginginkan kenikmatan itu. Kenyamanan yang mungkin takkan bisa kudapatkan untuk kedua kalinya. Ah sudahlah, untuk apa aku mengharapkan sesuatu yang tak bisa kugapai? untuk apa aku menangkap angin? menggenggam air?

Realita menungguku untuk melanjutkan perjalanan hidup. Aku harus kembali mengukir kisahku di atas media yang lain, daratan yang saat ini kupijak. Mulai meniti kisah yang lain di sini, melukis peta kehidupan dengan pena dan hiasan yang baru. Kenangan indah di ketinggian itu takkan pernah kulupa, akan tetap tersimpan di dalam memoriku sebagai pengalaman yang menakjubkan. Aku tak tahu kemana kakiku akan melangkah. Tapi aku percaya, suatu saat nanti keindahan yang lain akan datang untuk menuai senyumku kembali. Mungkin aku akan merindukan kenangan itu, namun aku tidak akan pernah kembali pada 'langit' yang sama.

- blaue rosen. 14.12.2014-